Pepatah mengatakan barang siapa mengaku cinta kepada Allah, tetapi tidak mau berhenti melakukan maksiat dan hal-hal yang diharamkan Allah maka pengakuannya adalah ‘dusta’; barang siapa mengaku cinta kepada Rasul Muhammad saw. tetapi masih benci atau tidak peduli kepada fakir miskin maka pengakuannya adalah ‘dusta’; barang siapa mengaku mengharap akan surga, tetapi masih enggan bersodaqoh maka pengakuan itu adalah ‘dusta’; barang siapa mengaku takut akan siksa neraka tetapi tidak berhenti berbuat dosa, maka pengakuan itu adalah "Dusta".
Imam Bukhori Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud RA. dari Nabi SAW. Beliau bersabda: “Sesungguhnya kejujuran itu akan menuntun kepada kebaikan, sesungguhnya kebaikan itu akan menuntun ke surga dan sesungguhnya orang yang senantiasa berlaku jujur akan dicatat di sisi Alloh sebagai orang jujur. Sesungguhnya dusta itu akan menuntun kepada keburukan sesungguhnya keburukan itu akan menuntun kepada neraka dan sesungguhnya orang yang senantiasa berdusta akan dicatat di sisi Alloh sebagai pendusta.”
Dusta merupakan perbuatan, sikap, atau tingkah laku yang tidak dilarang oleh Allah SWT. "... Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta." (QS.AI-Hajj/22:30).
Di dalam riwayat lain Nabi SAW. telah bersabda "Maukah kuberitahukan kepada kalian dusta itu dosa besar yang paling besar (Para sahabat menjawab) Mau Ya Rasululloh saw. Beliau bersabda Menyekutukan Alloh dan durhaka kepada orang tua. Saat itu belieu sambil berbaring, lalu duduk dan meneruskan sabdanya: Ketahuilah, termasuk di dalamnya dusta dan saksi palsu. Belieu mengulang-ulang sabdanya sehinggd kami membdtin alangkah baiknya jika belieu menyeduhainya. (HR. Bukhori Muslim).
Maka jelas bagi kita bahwa perkataan dusta merupakan perbuatan dosa besar, sehingga perbuatan dusta termasuk salah satu tanda orang-orang munafik.
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati berkhianat.” (Muslim)
Munafiq adalah merupakan sifat yang sangat buruk dan berbahaya bagi kaum muslimin karena mereka mengaku beriman, mengaku muslimin padahal sebenarnya tidak, mereka mencari-cari kelemahan kaum muslimin untuk menghancurkan kekuatan kaum muslimin dari dalam.
Banyak para sahabat Nabi Saw. yang terbunuh akibat perbuatan orang munafiq sehingga di dalam AI-Qur'an disinyalir lebih banyak ayat-ayat yang bercerita tentang orang-orang munafiq daripada orang-orang yang taqwa dan orang-orang yang kafir, di dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 3 - 20 terdapat tiga golongan manusia , yaitu orang yang bertaqwa (3 ayat), orang yang kafir (2 ayat), orang yang munafiq (13 ayat)
Maka sekecil apapun perbuatan dusta jangan dilakukan sebab meskipun kecil tetapi jika dilakukan terus menerus dusta akan terkumpul menjadi banyak atau besar, dan yang lebih berbahaya lagi kalau dusta itu dilakukan sudah tidak merasa berdosa di sisi Allah SWT.
Dusta merupakan pangkal dari segala maksiat. Di dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa ada seorang arab badui yang sangat luar biasa jahatnya. Ketika dia masuk Islam, dia merasa berat melaksanakan syariatnya dan mengubah akhlaknya yang buruk, Nabi Saw. menanyakan maukah kamu meninggalkan satu dosa yaitu berdusta, orang baduy itu pun menyanggupi-nya.Ternyata setelah dia pikir-pikir, ia tak mungkin menunaikan kemuslimannya dengan tetap tidak meninggalkan maksiat, kecuali ia berdusta dengan kemuslimannya atau kemaksiatannya. Oleh karena itu, jelas bahwa dusta itu awal dari kemaksiatan, tiada maksiat tanpa dusta.
Maka jauhilah perbuatan dusta itu sesulit apapun, karena dusta adalah sumber dari segala maksiat sedangakan jujur adalah sumber dari segala kebaikan.
Perbuatan dusta akan memutuskan silaturahmi, akan menghilangkan kepecayaan dan dapat menjadi sumber persengketaan
Alloh berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 119, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar (jujur)”.
Ada tiga perbuatan dusta yang dibolehkan oleh Rosululloh Saw, yaitu dalam peperangan, dalam rangka mendamaikan antara orang-orang yang bersengketa, dan pembicaran suami kepada istrinya (HR.Ahmad).