Adakah di antara kita yang terbebas dari perilaku bohong? Bersyukurlah ketika anda tidak pernah melakukannya karena sikap itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw, hingga beliau menjadi sosok manusia terpercaya atau dikenal dengan sebutan al amin.
Pernahkan kita berpikir bahwa kebohongan merupakan sikap tidak terpuji, yang tidak bisa kita menutupi-nya, kecuali dengan kebohongan berikutnya? Na'udzubillah, kita berlindung darinya.
Kebohongan merupakan indikator kemunafikan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw ”Tanda kemunafikan itu ada tiga, bila berbicara ia bohong, bila berjanji ia ingkar, dan bila diberi amanah berkhianat” (HR. Bukhari).
Berbohong adalah bentuk nifak amali yang harus dihilangkan dari kehidupan pribadi atau masyarakat. Tidak ada tempat yang paling tepat bagi seorang munafik selain lapisan neraka yang paling bawah, hal tersebut seperti difirmankan Allah SWT dalam QS. An Nisa 145 yang berbunyi “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.”
Kebohongan adalah cikal bakal merebaknya keburukan dalam kehidupan. Berkenaan hal ini Rasulullah saw bersabda ”Tidaklah ada kebaikan dalam dusta” (HR. Malik).
Dalam riwayat yang lain beliau juga bersabda ” Sesungguhnya dusta itu menuntun kepada kekejian, dan kekejian itu menuntun ke dalam neraka. Tidak henti-hentinya seseorang itu berdusta dan membiasakan diri dalam dusta, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muttafaq 'alaih).
Kemaksiatan yang ditimbulkan dari kemaluan adalah zina, dan kemaksiatan yang ditimbulkan oleh lisan adalah dusta. Terkadang dengan lisannya seseorang mengucapkan kata-kata tanpa dipertimbangkan dan dipikirkan sebelumnya, sehingga menimbulkan fitnah dan kemudharatan yang banyak bagi dirinya maupun bagi orang lain.
Di antara sebab utama yang membuat anak Adam terjerumus ke lembah kemaksiatan adalah mereka tidak menjaga dua hal, yaitu lidah dan kemaluannya. Sehingga Rasulullah pernah bersabda "Barangsiapa yang mampu menjaga apa yang terdapat diantara dua janggutnya dan apa yang ada diantara dua kakinya, maka aku jamin akan masuk surga."(Muttafaqun 'Alaih).
Oleh karena itu, jelaslah bahwa di antara keselamatan seorang hamba adalah tergantung pada penjagaan seseorang terhadap lisannya. Nabi pernah menasehati 'Uqbah bin Amir ketika dia bertanya tentang keselamatan, kemudian beliau bersabda :"peliiharalah lidahmu, betahlah tinggal di rumahmu dan tangisililah dosa-dosamu (HR Tirmidzi).
Penyimpangan yang banyak terjadi di masyarakat kita sekarang ini adalah melakukan dusta, baik dalam ucapan maupun perbuatan, baik dalam menjual ataupun membeli, dalam sumpah dan perjanjian, bahkan menggunakan dusta sebagai bumbu dakwah dan menjatuhkan orang karena kedengkian. Adapun cara untuk menghindari dusta tersebut diantaranya ialah pertama, tidak bergaul dengan para pendusta dan mencari teman saleh dan jujur. Kedua, mempunyai keyakinan yang mantap akan bahaya yang ditimbulkannya baik di dunia akhirat. Ketiga, melatih hati dan lisan untuk selalu berkata dan berbuat jujur. Keempat, selalu mengkaji Al Qur'an dan Hadits serta berupaya optimal mengamalkannya. Wallahu a'lam bishawab.
Abualifudin